HOME
 
ABOUT US

Company History

Capability and Responsibility

Pre Qualification

CARBON CREDIT PROJECT
CUSTOMIZED ENGINEERING

Biomass Co-Generation

Metal Melting & Heat Treatment Furnace

Dust Collector

Air Change

Fan & Blower

GIKOKO IN NEWS
SITE MAP
CONTACT US

General Enquiries

Technical Collaboration Opportunities

Career Opportunities

Preferred Vendor

 
CDM Batu Layang Pertama di Indonesia
 
Suhu Mencapai 1.400 Derajat Celcius

(Equator Online, 17 June 2007) Pontianak,- Pemerintah Kota Pontianak menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki mesin pengumpul dan pembakar gas di tempat pengelolaan sampah akhir (TPA) Batulayang. Program yang diberi nama Clean Development Mechanism (CDM) atau Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB) di TPA tersebut, hasil kerja sama Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia.

Wali Kota Pontianak dr Buchary A Rachman, Sp KK, belum lama ini menjelaskan, program itu untuk mengurangi emisi gas. Pengurangan efek gas rumah ini didukung dan difasilitasi Bank Dunia (World Bank). Program ini sesuai dengan yang diamanatkan program yang mendunia, Kyoto Protokol 1997.

"Saat ini, di TPA Batu Layang Pontianak instalasi pengumpulan gas yang dilengkapi sarana pendukung pembakaran dan monitornya telah dioperasikan," katanya usai Penandatanganan Emmision Reduction Purchase Agrrement (ERPA) antara World Bank dengan PT Gikoko Kogyo di Pontianak Convention Center (PCC), Kamis (14/6) lalu.

Buchary menjelaskan, setelah PT Gikoko Kogyo memasang jaringan pemipaan, membangun mesin pengumpul dan pembakar gas, perangkat tersebut berhasil dioperasikan pada Minggu (10/6) lalu dan diresmikan Kamis. "Dengan adanya mesin ini di TPA Batu Layang, kita menjadi salah satu kota di dunia ini yang memberikan kontribusi terhadap upaya-upaya menurunkan pemanasan global," paparnya.

Proyek ini, kata Buchary merupakan proyek berskala internasional didukung implementasi program CDM, Kyoto Protokol. "Kyoto Protokol itu merupakan proyek pengurangan emisi gas rumah kaca yang berpengaruh pada pemanasan global dan perubahan iklim," jelasnya.

Di tempat sama, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pontianak Drs Sugeng Harjo Subandi mengharapkan, program itu berlanjut pada lahan lainnya hingga mencapai 13,5 Ha yang sudah ditimbuni sampah sejak 1996, dengan volume mencapai hingga 300 ribu ton dan masih ditambah masuknya sampah per hari 250-300 ton. "Seterusnya jaringan dan penataan fisik proyek ini akan terus berlanjut, hingga seluruh sel dan sampah yang ada bisa dilakukan pengolahan," harapnya.

Di tempat sama, Direktur Marketing PT Gikoko Kogyo William Ko mengatakan, mesin tersebut dapat beroperasi dan berhasil membakar gas dari timbunan sampah (landfill gas) hingga suhu 930 derajat celsius. "Temperatur gas ini tergantung pada komposisi asupan gas, jumlah gas dan efisiensi burner. Sistem pembakaran (Flare System) yang didesain PT Gikoko mencapai suhu 1.400 derajat celsius. Uji coba hari pertama 1-5 jam. Seterusnya hingga lima hari uji coba, secara rutin dilakukan setiap hari selama 1-2 jam, hingga nantinya dapat dioperasikan 24 jam nonstop," ujarnya.

Pada tahap uji coba ini William menjelaskan, sistem baru menggunakan dua blower pengisap gas dari total empat unit yang terpasang pada mesin tersebut. "Sedangkan asal gas yang dikumpulkan baru dari Sel B TPA Batu Layang seluas 67 meter x 80 meter dengan ketinggian sampah rata-rata lima meter. Pada sel tersebut telah terpasang 7 jalur pemipaan yang ditanam di bawah lahan sampah yang menggunung. Tumpukan sampah tersebut ditutup dengan beberapa lapisan tanah merah yang dipadatkan, agar gas yang dihasilkan sampah tidak lepas ke udara bebas," tuturnya.

Direktur Produksi PT Gikoko Kogyo Indonesia, Joseph Hwang, M Sc menyatakan rasa senangnya program itu diimplementasikan dalam waktu singkat karena dukungan Wali Kota Pontianak, Carbon Finance Unit Bank Dunia, dan Pemerintah Belanda.

"Proyek ini menunjukkan fleksibilitas secara teknis dan financial yang dapat mendorong pelaksanaan proyek CDM lainnya dan dapat berkontribusi terhadap program pengembangan bagi masyarakat di sekitar TPA," katanya.

Duta Besar Belanda Dr N Van Dam mengatakan, untuk merangsang perkembangan pasar karbon, Belanda telah mengawali kerja sama jangka panjang proyek CDM dengan negara-negara yang berpotensi besar untuk proyek tersebut. "Oleh karena itu, kami membuka kerja sama CDM secara bilateral dengan Indonesia," katanya.

Perjanjian kerja sama mengenai CDM, kata Dam, antara Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia dan Kementerian Pemukiman, Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Belanda telah ditandatangani pada 22 Februari 2005. "Implementasi proyek pembakaran metan di TPA Batulayang akan menghasilkan pengurangan sekitar 1,5 juta ton ekuivalen CO2 selama berlangsungnya proyek ini," jelasnya.

Ini akan menjadi bagian pengurangan emisi gas rumah kaca seperti yang ditargetkan United Nations Convention on Climate Change. "Di samping keuntungan global ini, secara lokal proyek ini akan berguna untuk pembuangan akhir dan pengelolaan limbah padat di kota-kota," tutur Dam.

Selain peluang komersial dalam pengelolaan limbah padat, kata Dam, proyek ini sebagai perbaikan bidang lingkungan hidup dan sosial. "Belanda telah bertekad untuk membeli 350.000 Certified Emissions Reductions dari Pontianak Landfill Gas Flaring Project. Reduksi ini akan membantu kami untuk memenuhi sebagian dari penurunan emisi gas rumah kaca yang diwajibkan oleh Protokol Kyoto dan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara global," katanya. (dik)

Source

 

PT. GIKOKO KOGYO INDONESIA, Pulo Gadung Industrial Estate, Jl. Pulo Kambing Kav. II i/9 Jakarta 13930
Tlp. +62 021 460 1970 | Fax. +62 021 460 9380 | E-mail: gikoko@gikoko.co.id, gikoko@aol.com | Marketing: Skype Me™!
Copyright © 2007 GIKOKO KOGYO INDONESIA, All Rights Reserved