HOME
 
ABOUT US

Company History

Capability and Responsibility

Pre Qualification

CARBON CREDIT PROJECT
CUSTOMIZED ENGINEERING

Biomass Co-Generation

Metal Melting & Heat Treatment Furnace

Dust Collector

Air Change

Fan & Blower

GIKOKO IN NEWS
SITE MAP
CONTACT US

General Enquiries

Technical Collaboration Opportunities

Career Opportunities

Preferred Vendor

 
Bakar Gas Metan Pontianak Atasi Pemanasan Global
 
Suhu Mencapai 1.400 Derajat Celcius

(Pontianak Post Online, 15 June 2007) Pontianak,- Kota Khatulistiwa boleh berbangga, kerjasama bilateral Indonesia-Belanda dalam proyek mekanisme pembangunan bersih Clean Development Mechanism (CDM) dengan membakar gas methan untuk mendapatkan sertifikasi kontrak penjualan penurunan emisi tersertifikasi, dilaksanakan di kota jasa dan perdagangan bertaraf internasional ini.

Penandatanganan emissions reductions purchase agreement (ERPA) atau kontrak penjualan penurunan emisi tersertifikasi antara PT Gikoko Kogyo dan International Bank for Reconstruction and Development dalam kapasitasnya sebagai penanggung jawab Netherlands Clean Development Mechanism Facility, dilakukan kemarin (14/6) di Pontianak Convention Center.

Momentum bersejarah ini disaksikan puluhan wali kota se-indonesia yang saat itu sedang melakukan Rapat Kerja Asosiasi Pemerintah Kota Indonesia (APEKSI).

Penandatanganan naskah kerjasama dilakukan oleh Mr. Sotoko dari PT Gikoko, dan perwakilan World Bank, Mrs Sandra Cointreau. Duta Besar Belanda untuk Indonesia, DR N. Van Dam ikut menyaksikan acara itu.

Menurut Van Dam, untuk merangsang perkembangan pasar karbon, Belanda telah mengawali kerja sama jangka panjang di bidang CDM dengan negara-negara yang memiliki potensi besar bagi proyek-proyek CDM. "Oleh karena itu kami juga membuka kerja sama CDM secara bilateral dengan Indonesia," katanya.

Perjanjian kerja sama mengenai CDM antara Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia dan Kementrian Pemukiman, Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Belanda telah ditandatangani pada 22 Februari 2005.

"Saya merasa sangat berbahagia bahwa hari ini bisa menyaksikan proyek pertama yang diwujudkan di bawah MoU ini, landfill gas flaring - atau pembakaran gas metan di Tempat Pembuangan Akhir Pontianak," kata Van Dam dengan bahasa Indonesianya yang fasih.

Ia melanjutkan, implementasi proyek pembakaran metan di TPA Kota Pontianak akan menghasilkan pengurangan sekitar 1,5 juta ton ekuivalen CO2 selama masa berlangsungnya proyek.

Ini akan ikut menjadi bagian dalam pengurangan emisi gas rumah kaca sebagaimana ditargetkan oleh United Nations Convention on Climate Change. Di samping keuntungan global ini, secara lokal proyek ini akan ikut berguna untuk tempat pembuangan akhir dan pengelolaan limbah padat di kota-kota.

Selain itu, sambungnya, investasi sektor swasta dalam pengelolaan limbah padat menunjukkan adanya peluang komersial dalam pengelolaan limbah padat di samping perbaikan di bidang lingkungan hidup dan sosial.

Ia menambahkan, Belanda telah bertekad untuk membeli sejumlah 350.000 Certified Emissions Reductions dari Pontianak Landfill Gas Flaring Project. "Reduksi ini akan membantu kami untuk memenuhi sebagian dari penurunan emisi gas rumah kaca yang diwajibkan oleh Protokol Kyoto dan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara global," katanya.

Sekadar diketahui, Indonesia adalah salah satu negara yang telah menyadari perlunya pengendalian perubahan iklim dan peranan pasar karbon yang masih baru ini, dalam menarik sumber pendanaan tambahan untuk membiayai energi pembaharu.

Tawaran Indonesia untuk menjadi tuan rumah bagi Conference of the Parties (CoP) pada bulan Desember di Bali tahun ini menjadi bukti hal tersebut. "Saya percaya bahwa COP 13, akan membuahkan hasil dan akan memberikan peta yang jelas bagi penentuan jalan yang akan ditempuh pasca perjanjian Kyoto," katanya.

Van Dam berharap, pekerjaan yang dilakukan bersama ini akan lebih memperkuat hubungan baik dan mempererat kerja sama antara Belanda dan Indonesia. "Juga saya harapkan proyek ini akan menjadi inspirasi bagi pihak lain yang sedang mencari solusi berkelanjutan bagi pengelolaan limbah padat," ujarnya.

Sementara Wali Kota Pontianak, Buchary A Rachman mengatakan, keja sama ini didukung dan difasilitasi oleh World Bank, sebuah kegiatan berpartisipasi dalam rangka pengurangan emisi gas, pengurangan Efek Gas Rumah Kaca, seperti yang diamanahkan pada program yang mendunia, Kyoto Protokol 1997.

Di TPA Batu Layang Pontianak saat ini telah dibangun instalasi pengumpulan gas dilengkapi sarana pendukung pembakaran dan monitornya, dan sudah beroperasi. Proyek ini satu-satunya di Indonesia yang sudah beroperasi, terutama program CDM pada bidang persampahan.

Menurut Buchary, proyek ini merupakan salah satu bentuk peran serta Pontianak di dalam mengatasi isu dunia pemanasan global (Global Warming) akibat dari emisi gas buang, yang berakibat pada perubahan iklim.

Selama periode 20 tahun, proyek ini diperkirakan akan menghasilkan 1,5 juta ton pembakaran gas metan. Setiap tahunnya, dikeluarkan sertifikasi gas metan tersebut yang dibeli oleh Pemerintah Belanda.

"Bank Dunia yang menjadi penyandang dana dan dipinjamkan ke PT Gikoko untuk pembiayaan proyek tersebut. Pemkot tidak mengeluarkan dana sepeser pun, tapi mendapatkan banyak manfaatnya," kata dia.

Saat ini harga gas metan/tonnya di pasaran dunia bervariasi. Saat ini harganya 6 hingga 10 dollar per ton. Pemkot Pontianak mendapatkan dana bagi hasil sebesar 7 persen dari hasil penjualan CER. Dana tersebut akan digunakan untuk program pembangunan lingkungan sekitar serta perbaikan TPA. (zan)

Source

 

PT. GIKOKO KOGYO INDONESIA, Pulo Gadung Industrial Estate, Jl. Pulo Kambing Kav. II i/9 Jakarta 13930
Tlp. +62 021 460 1970 | Fax. +62 021 460 9380 | E-mail: gikoko@gikoko.co.id, gikoko@aol.com | Marketing: Skype Me™!
Copyright © 2007 GIKOKO KOGYO INDONESIA, All Rights Reserved